Pages

Showing posts with label Seriuuus. Show all posts
Showing posts with label Seriuuus. Show all posts

Monday, February 12, 2018

STIA LAN 2018


Tahun 2018-2019 katanya tahun politik, merujuk pada kontestasi pemilihan langsung kepala Daerah, Pemilu Legislatif dan pemilihan langsung Presiden-Wakil Presiden.
Buat saia 2018-2019 adalah tahun pendidikan.
Ceritanya  di akhir tahun 2017 saia mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi negara (STIA LAN) Jakarta. Berbekal leaflet yang didownload dari situs resminya (stialan.ac.id), mengisi formulir pendaftaran melengkapi persyaratan dan membayar uang pendaftaran, akhirnya dapat mengikuti test masuk STIA LAN.

Tuesday, August 09, 2011

Penerapan IT Service Management (ITSM) di Pusintek Kemenkeu

Latar Belakang

Mengingat dinamika organisasi dan teknologi yang sedemikan pesat dan meningkatnya harapan pengguna akan layanan TIK yang handal serta semangat untuk meningkatkan kualitas layanan TIK yang lebih baik kepada pengguna, maka Pusintek sebagai penyelenggara layanan TIK Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mulai memperhatikan proses pengelolaan layanan yang baik. Perangkat yang telah dimiliki saat ini telah memadai untuk menyelenggarakan layanan yang diharapkan, akan tetapi kecanggihan perangkat tidak selalu mampu menjawab tantangan dan kebutuhan organisasi secara umum. Untuk itu diperlukan perangkat kebijakan, kerangka kerja, prosedur dan instruksi kerja yang memadai baik dari sisi ruang lingkup maupun kedalaman informasinya.

Wednesday, July 21, 2010

Informal Leader

Dalam kehidupan berorganisasi kerapkali struktur-struktur kepemimpinan yang telah ditetapkan secara legal formal kalah oleh kepemimpinan yang sifatnya tidak terstruktur, tidak legal atau dengan kata lain informal. Informal Leader barangkali itu istilah yang tepat unutk mengartikan kondisi dimaksud. Bentuk dari kepemimpinan informal adalah bias, tidak teratur namun kuat dan efektif.
Situasi dan kondisi sering menyebabkan sosok-sosok seperti ini tidak menempati posisinya, tidak berada pada posisi memimpin seperti naluriahnya. Dilahirkan untuk memipin barangkali ini istilah yang tepat untuk menggambarkan informal leadership. Tidak memerlukan media-media formal untuk menunjukan kekuasaanya. Bentuk dari kepemimpinan jenis ini bisa bermacam-macam, lingkup dan areanya pun bisa dimana saja dan kapan saja.

Dalam pemerintahan, organisasi-organisasi kemasyarakatan, partai politik, lingkungan kampus dan sekolah, masyarakat umum dan tempat-tempat lainnya informal leader muncul. Membentuk koloni-koloni tanpa identitas yang mampu bergerak secara efektif dan efisien. Pemimpin jenis ini pendapatnya didengar, perbuatannya kerap kali ditiru atau minimal dijadikan acuan serta parameter bagi yang lain. Hal inilah yang menyebabkan posisi informal leader kuat serta menentukan arah dari suatu organisasi.

Contoh informal leadership barangkali dapat kita lihat dilingkungan masing-masing. Di kantor misalnya, selain ada pemimpin-pemimpin mulai dari eselon IV hingga level Menteri juga banyak terdapat pemimpin-peminpin informal yang mampu merangkul, meraih simpati serta dapat menggerakan pegawai lainnya. Dalam suatu tim sepakbola istilah ini juga ditemukan. Dalam suatu tim ada pelatih, asisiten pelatih, kapten dan wakil kapten selain yang disebutkan tersebut ada pemain-pemain yang memiliki kharisma sebagai informal leader, yang pendapatnya di dengar serta disegani oleh rekan satu tim.

Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya salah satunya adalah dengan tercipta suatu sinergi antara pemimpin-pemimpin formal dengan pemimpin-pemimpin informal. Sinergi keduanya akan menciptakan suatu energi dahsyat untuk membuat organisasi lebih maju. Sebaliknya kegagalan suatu organisasi tidak bisa dilepaskan dari tidak terciptanya sinergi antara pemimpin formal dan informal.

Be informal Leader?

Tuesday, July 13, 2010

Pentingnya Regenerasi dalam Organisasi

Tidak diragukan lagi dalam suatu organisasi, unsur manusia (Man), merupakan unsur utama di luar unsur-unsur lainnya dalam manajemen. Dari Manusia lah unsur-unsur lain bersandar dan bergerak, maka ketika tiada resources berupa Manusia, maka proses administrasi dalam arti luas atau manajemen khususnya tidak berjalan.

Manusia sebagai figur sentral dalam manajemen, merupakan unsur yang harus dilestarikan atau dengan kata lain harus dijaga ketersediaannya, dalam hal ini ketersediaan dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Banyak organisasi yang sebelumnya powerfull tiba-tiba kolaps dan mati ketika ketersediaan resourcces bernama manusia ini tidak terpenuhi. Banyak organisasi mampu bertahan dalam himpitan krisis moneter, suhu politik yang tidak bersahabat, atau tekanan dari pihak luar organisasi karena memiliki sistem kaderisasi yang baik.

Salah satu indikator sehatnya suatu organisasi adalah ketika terjadi peralihan generasi/regenerasi organisasi dapat berjalan seperti kondisi sebelumnya, bahkan lebih. Regenerasi dapat didefinisikan sebagai sutu perpindahan tongkat estafet dalam berorganisasi dari generasi yang lebih senior ke generasi yang lebih junior, dengan definisi senior dan junior sebagai peristilahan yang luas, bisa dari sisi usia, tahun masuk menjadi anggota dalam suatu organisasi dan lainnya). Sedangkan kaderisasi merupakan suatu usaha yang dirintis untuk mempersiapkan kader-kader penerus dalam suatu proses regenerasi. Dengan kata lain proses regenerasi merupakan suatu hal yang pasti terjadi bilamana suatu organisasi hendak dipertahankan, tanpa melihat lebih dalam kualitas dari orang-orang yang terlibat dalam proses regenerasi. Sedangkan kaderisasi cenderung kepada proses regenerasi yang telah direncanakan sebelumnya, utamanya dari sisi kualitas. Sistem Kaderisasi telah melihat hal-hal kedepan terkait dengan resouces yang ada di organisasi, pos-pos mana yang haus segera diisi dari kekosongan, termasuk didalamnya bagaimana mencetak kader-kader yang handal serta terampil dan berpengetahuan dalam menjalankan organisasi sesuai pos nya kelak. Regenerasi dan kaderisasi merupakan suatu term yang wajib dijadikan ingatan pertama dan utama bagi bagian yang mengelola resource sumber daya manusia. Padanyalah dipertaruhkan masa depan organisasi, keberlagnsungan atau hidup matinya.

Beberapa waktu lalu saya pernah terlibat dalam kegiatan kerohanian islam di STIA LAN Jakarta (2005-2007). Saya ingat betul, dalam masa-masa itu organisasi terasa hidup dan aktif dalam berbagai kegiatan. Beberapa kader bahkan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain di luar kegiatan Rohani islam oleh organisasi lain di lingkungan kampus. Hingga tahun 2007 akhir jelang 2008 dimana kader-kader dalam organisasi mulai merampungkan tugasnya sebagai mahasiswa di kampus tersebut, mulailah terasa arti dari suatu istilah regenerasi dan kaderisasi. Pada masa itu walaupun tidak terlalu memuaskan, pendahulu-pendahahulu dalam organisasi mampu menghadirkan kepengurusan baru dalam orgnasisai kerohanian islam. Tidak banyak yang dihasilkan dalam proses kaderisasi, karena sudah menjadi hal yang umum dalam organisasi-organisasi yang level maturity nya masih rendah kerapkali sering melupakan sistem kaderisasi dalam organisasi. Celakanya setelah proses regenerasi berlangsung, tampaknya tidak berjalan begitu mulus, masih terdapat campur tangan dominan dari personal-personal yang sebelumnya telah menjadi bagian dari pihak yang “tergusur” oleh proses regenerasi. Dalam kondisi yang seperti itu, organisasi tidak dinamis sehingga cenderung vakum dalam berkegiatan, terkahir adalah tidak jauh berbeda dengna pendahulunya, proses kaderisasi tidak berjalan, menurut informasi terkahir yang saya peroleh, kepengurusan yang sekarang bingung untuk mewariskan tongkat estafet organisasi kepada para juniornya. Suatu organisasi akan mati suri perlahan [dan mungkin seterusnya].

Kondisi bersebrangan tentang regenerasi dan kaderisasi pernah saya temui pada masa-masa duduk di bangku SMU. Ketersediaan resources berupa Manusia yang berkualitas, yang seakan tidak ada habisnya, serta sistem kaderisasi yang bagus menyebabkan organisasi terus hidup dan berjalan hingga saat ini. Saya ingat ketika minggu-minggu hadir di lingkungan SMU komplek Kolonel Masturi 64, saya diperkenalkan dengan beberapa organisasi-organisasi di sekolah seperti OSIS, Majelis Pertimbangan Kelas (MPK), Pramuka, PMR dan lainnya. Tampak begitu antusias serta dengan tingkat pemahaman organisasi yang tinggi (setidaknya menurut saya) senior-senior di SMU menjeaskan tentang masing-masing organisasi di atas. Sampai akhirnya saya ikut terjun di salah satunya. Saya aktif di OSIS selama 2 tahun, saya ikut terlibat dalam proses pengkaderan, baik sebagai peserta maupun sebagai mentor bagi junior-junior yang kelak akan duduk dalam organisasi. Terasa saat indah masa-masa tersebut, masa-masa terbaik munkgin dalam melihat proses regenerasi dan kaderisasi berjalan.

Pada kesempatan ini tentunya saya mengingatkan pada diri saya pribadi juga kepada aktor aktris organisasi, baik dilingkungan pemerintahan, perusahaan, LSM, parpol maupun kampus dan sekolah serta organisasi lainnya bahwa proses kaderisasi amat penting guna menunjang regenerasi organisasi. Tidak hanya pada unit yang mengelola sumber daya manusia sebagai penanggung jawab utama dalam hal ini melainkan seluruh pelaku dalam organisasi.

Wednesday, May 26, 2010

Jose Mourinho Leadership

Bukan pengamat bola, pemain atuh pelatih. Persisnya hanya sebagai penikmat berita-berita sepakbola yang ada di Media.

Belakangan ini hangat dibicarakan mengenai sukses Inter Milan yang berhasil meraih trofi liga Champion untuk menyempurnakan Treeble Winner setelah sebelumnya memenangi Liga Italia dan Copa Italia. Sesuatu yang spesial tentunya untuk klub-klub yang ada di daratan Itali terkait hal ini. Inter merupakan tim pertama yang memperoleh Treeble Winner di itali atau ke enam di eropa.

Kesuksesan inter tidak terlepas dari campur tangan seorang pelatih bertangan dingin yakni Jose Mourinho. Bukan rahasia lagi kurang lebih setengah abad Inter tidak pernah menjuarai Liga Champion, pun kehadiran sederet bintang di Internazionale hingga beberapa pelatih ternama tak mampu mengangkat pamor serta prestasi Inter Milan di Eropa.

2 musim di Internazionale Mourinho memberikan gelar yang begitu bergengsi yakni Liga Champion.

Siapa Mourinho? Barangkali tidak perlu disebutkan satu persatu perihal mengenai Mourinho.

Satu hal yang menarik penulis untuk sedikit menulis mengenai dirinya adalah mengenai kepiawaian Mou dalam mengatur suatu tim. Kemampuan mengelola tim, kemampuan mengelola resource yang ada pada suatu tim. Lebih jauh adalah kemampuan manajerial Mou dalam memimpin suatu unit organisasi.

Strong leader, barangkali terminologi tersebut yang cocok untuk menggambarkan sisi-sisi Mourinho sehingga mampu memimpin suatu tim dengan baik serta bergelimang kesuksesan.

Menilik pada teori-teori kepemimpinan ada 3 teori terkait kepemimpinan, yakni :
1. Teori Keturunan (heriditary theory)
2. Teori Kejiwaan (psychological theory)
3. Teori Lingkungan (situational theory)

Teori keturunan berpegang kepada prinsip bahwa pemimpin itu dilahirkan (leaders are born and not made). Sejak lahir seseorang telah memiliki kemampuan untuk memimpin hingga dewasa dan seterusnya.

Teori Kejiwaan lebih rasional dalam melihat arti suatu kepemimpinan, pernyataan terkait dengan kepemipinan dalam teori kejiwaan adalah kepemimpinan dapat dibentuk/dipelajari (leaders are made not born). Siapapun dapat belajar untuk menjadi seorang pemimpin, itu intinya.

Teori Situasional merupakan sintesa dari 2 teori diatas, lebih dari penggabungan dua buah pemikiran yang beda diatas. Pada kenyataannya terjadi situasi-situasi yang memunculkan pemimpin-pemimpin, beberapa orang memiliki bakat kepemimpinan namun akibat situasi yang tidak memungkinkan bakat tersebut menjadi tersiakan. Beberapa orang ditempa untuk menjadi pemimpin namun karena usaha-usaha yang dilakukan tidak tepat dan memang dalam banyak hal perlu bakat alami untuk menjadi seorang pemimpin, maka usaha yang ditempuh akan tidak optimal.

Asal muasal suatu kepemimpinan sedikit banyak akan berimbas kepada gaya seperti apa yang akan diterapkan dalam memimpin, kaitannya dengan tema dalam tulisan ini adalah gaya seperti apa yang akan dimainkan dalam memimpin suatu tim.

Terkait dengan tokoh kita dalam tulisan ini, saya berasumsi bahwa Mou adalah pembelajar yang cerdas. Beberapa pernyataan yang penulis nukil dari beberapa Media, misalnya dalam Goal.com Mou berujar “Saya 3 tahun menghabiskan waktu bersama Van Gaal, namun 41 tahun saya belajar”. Kompas dalam sebuah artikelnya menyebut bahwa Mou “Pernah kuliah di jurusan ilmu olahraga Universitas Lisbon dan pernah kursus kepelatihan di Inggris dan Skotlandia”, atau ulasan-ulasan dari beberapa media yang mengisahkan perjalanan Mourinho, dari mulai sebagai asisten pelatih di Nou Camp selama kurang lebih 4 tahun dari Era Robson hingga Van Gaal, kemudian sempat melatih di Benfica, membawa club kecil Uniao de Leiria diposisi lima klasmen akhir, membawa FC Porto 2 kali menjadi juara di liga Portugal, juara UEFA dan Champion League, kemudian melatih Chelsea untuk menjadi kekuatan baru di Premiership, terkahir adalah membawa Intermilan merengkuh dua scudetto berturut-turut, Copa Itali dan yang terakhir adalah Liga Champion.

Jelas terlihat kemampuan Mou sebagai pemimpin pembelajar, jika kita perhatikan dengan seksama prestasi yang diperoleh Mou selalu meningkat sejalan dengan proses belajar yang ia lakukan. Mulai dari klub kecil, mulai dari tantangan kecil hingga ke klub besar dengan tantangan yang lebih besar, dengan tentunya dia telah mempersiapkan diri untuk itu semua, dengan kata lain Mou telah belajar untuk memimpin di mana dia akan tinggali.

Kemampuan me-manage resource yang dilakukan oleh Mou adalah tepat. Barangkali hal tersebut cocok digunakan sebagi contoh pengunaan jargon-jargon ilmu Administrasi dan Mangement, yakni EFEKTIF dan EFISIEN. Mou biasanya selalu memilih tim yang tepat untuk menghadapi setiap pertandingan. Melihat secara situasional siapa yang akan dihadapi, serta cara-cara seperti apa yang akan digunakan.

Media melihat selama ini Mo sebagai seorang pragmatis yang akan menggunakan cara apapun untuk menang, termasuk dengan menggunakan negatif football. Saya berpendapat itu hanyalah segelintir kemampuan Mou untuk memilah resource yang dimiliki dalam mencapai tujuan. Suatu saat saya yakin, Mou akan memutarbalikkan pandangan semua orang yang beranggapan dia seorang penganut negatif football. Dia akan memperagakan sepakbola yang atraktif disaat dia memiliki reources yang cukup untuk melakukan itu. Liat saja!.

Wednesday, September 20, 2006

KEPEMIMPINAN GUSDUR : PENCIPTA KONFLIK YANG JENIUS

BEBERAPA DEFINISI
Beberapa pengertian tentang konflik, sebagai berikut :
Konflik berasal dari kata con-fligere, conflictum yang artinya saling berbenturan, semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidakserasian, pertentangan, perkelahian, oposisi dan interaksi-interaksi yang antagonisistis-bertentangan.
Menurut Clinton F. Fink konflik adalah relasi-relasi psikologis yang antagonis, berkaitan dengan tujuan-tujuan yang tidak bisa disesuaikan, interest-interest eksklusif dan tidak bisa dipertemukan, sikap-sikap emosional yang bermusuhan dan struktur-struktur nilai yang berbeda. Interaksi antagonis disini mencakup tingkah laku lahiriah yang tampak jelas, mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung, sampai pada bentuk perlawanan terbuka, kekerasan, pemogokan, huru hara, makar, grilya, perang dan lainnya.
Ada pandangan yang menyebutkan bahwa konflik memiliki pengertian negatif, positif dan netral. Dalam pengertian yang negatif, konflik dikaitkan dengan sifat-sifat animalistik, kebuasan, kekerasan, destruktif dan lainnya. Dalam pengertian positif konflik dihubungkan dengan peristiwa : petualangan, hal-hal baru, inovasi, pembersihan, pemurnian, pembaharuan, perubahan dan lainnya. Dalam pengertian yang netral, konflik diartikan sebagai akibat biasa dari keanekaragaman individu manusia dengan sift-sifat yang berbeda dan tujuan hidup yang tidak sama pula.